lihat cerpenku di cerpen.net

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Tentang Kita

Pernah ku nikmati sayang…

senym tertulusmu pada satu keremangan malam bertabur puing kemilau purnama di bebatuan karang pantai berpasir emas…

mungkin kau sudah melupa, seperti halnya rindu yang kau janjikan bakal teradu pada satu hujan di bulan september saat reruntuhan air menyanjungi wajahmu yang anggun, yang menjadi sangat janggal akhir akhir ini

biar sayang…

bukan aku atau dirimu yang punya hak untuk mengecap cinta manis kita…

dan hanya aku…

hanya aku yang tersujud di sepertiga malamku selalu, tengadah dan berharap esok pagi angin mengamnesiakan perasaanku padamu
semua ingatan yang tercipta nyaris tak terlupa barang sedetik…

seandainya kau berharap juga… mungkin ratusan pagi yang lalu aku tak perlu menahan rindu begini…

ah kau pasti tahu sakitnya seberapa
kau pasti juga tau nyerinya tiada terkira

seharusnya kau tidak membantuku meyakinkan yang tidak mungkin pada akhirnya

harusnya kita tidak pernah ada…

backsound untitled by maliq n d’esential
-pada malam paling sendu_

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Pada Satu Gerimis ( bag. 16 )

” menikahlah denganku, aku tidak akan menjanjikan kebahagiaan yang macam macam, tapi aku akan selalu menemanimu dalam keadaan apapun. maafin aku selama ini ” ucapnya lagi sambil masih tetap memelukku

” iya, jangan pergi lagi…”

aku bahagia, semua rasa sakit dulu tiba tiba terlupa. dia memberi rasa nyaman yang luar biasa.

” kau tahu siapa yang memberi tahuku kalau kamu suka banget ujan ujanan?? ”

” siapa? ”

” ibumu, beliau juga yang menyadarkan aku waktu itu untuk tidak menyakiti kamu ”

” gimana kamu bisa ketemu ibuku??? ”

” ups! itu rahasia… seorang lelaki akan melakukan apa saja untuk mendapatka wanita yang dia cinta ”

” dan seorang wanita harus menunggu bahkan sakit untuk mendapatkan kebahagiaan yang diimipikannya??? ”

” mungkin…”

dan inilah cara takdir, berjalan dengan caranya, terkadang kita harus rela sakit, berkorban dan menunggu dalam waktu lama dan dalam ribuan gerimis, hingga sampai pada satu takdir bahagia, takdir di bawah satu gerimis ini.

-selesai-

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Pada Satu Gerimis ( bag. 15 )

” untuk apa kamu tahu ?? ” aku bertanya balik.

“aku cuma ingin tahu, kumohon…” pintanya

” aku sayang sama kamu, aku cinta sama kamu. 2 tahun ini aku sendiri melawan perasaan ini. sakit, sakit sekali… ” ucapku lirih, penuh haru air mataku hampir saja jatuh, tapi ku tahan sama seperti perasaanku kepadanya selama ini.

” maafin aku, beri aku kesempatan. aku akan berusaha buat ngebahagian kamu, aku akan berusaha buat ga nyakitin kamu lagi ” katanya lagi, matanya memohon, tulus, berkaca.
aku lemah, tapi aku takut, takut salah lagi.. takut kalau ini hanya mimpi dan hanya dengan membuka mata semuanya akan hilang begitu saja. aku takut..

” aku akan ada buat kamu, bukan cuma saat gerimis, saat hujan saja. aku akan ada buat kamu selama kamu menginginkan aku.. ” pintanya lagi.
perasaanku bercampur aduk, haru dan bahagia bercampur menjadi satu. aku mendekatinya, menggenggam tangannya dan mengangguk.
” aku mau ” ucapku dengan tangis. radit memelukku, sangat erat dah hangat dibawah gerimis dingin ini.

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Pada Satu Gerimis ( bag. 14 )

Hujan mulai mereda, tinggal gerimis. aku berdiri, beranjak untuk pergi. belum ada kata apa apa setelah pengakuannya. pengakuan yang entah mambahagiakan atau menyakitkan. aku hanya ingin diam dan pulang. berpikir sendiri…

” aku pulang ya, aku senang bisa ketemu kamu di sini. terima kasih buat semua penjelasannya ”

” kamu ga marah kan?! ” tanyanya takut.

” ga.. ” singkat, lalu beranjak keluar dari tempat ini. gerimis belum usai, kubuka payungku dan terus berjalan membelah derai air langit.

Hari ini aku pulang, aku sudah berkemas. aku sudah tidak peduli dengan rasa. aku sudah cukup tegar untuk sekedar menangis. entah dari mana ketegaran ini berasal.
aku melangkah keluar rumah. langit yang mendung tadi mulai menitikkan air. ah… gerimis lagi, hampir saja aku benci dengan gerimis.
tapi alangkah kagetnya aku ketika radit sudah berdiri di pekarangan dengan payungnya.

” aku tidak akan menghalangimu pergi, tapi aku ingin tau dari kamu, tentang perasaan kamu ke aku ” katanya tiba tiba, mengagetkanku.

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Pada Satu Gerimis ( bag. 13)

” semua pertemuan kita, aku yang bikin, aku yang sengaja hadir dengan cara seperti itu. aku ingin semua berkesan buat kamu ”

” membuat kesan, membuat jatuh cinta lalu membuatnya sakit… iya?? ”

” aku tahu aku salah, seseorang menyadarkanku. memberitahu bahwa aku tidak berhak menyakiti kamu atau istriku…” nadanya melemah.
mataku hanya berkaca, tapi di dalam dada ini jauh lebih sesak.

” aku berniat menghindar dari perasaanku, dari kamu. tapi kamu terlanjur menghindar lebih dulu. aku pikir kamu sudah tahu semuanya, jadi aku ga berani menghubungi kamu ” radit menunduk lagi, matanya kini yang mulai berkaca. gadis kecil yang sedari tadi tak mau lepas dari pangkuannya ikut berkaca. entah kenapa.
” istriku meninggal stahun yang lalu… ” suaranya melemah…
” aku turut berduka cita ” ucapku dengan nada yang sama.
suasana menjadi dingin, kami sama sama terdiam, aku tidak memutuskan pergi tapi juga tidak memberi tanggapan. entahlah…

hujanpun belum juga reda, entah sampai kapan…

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Pada Satu Gerimis ( bag. 12)

Aku segera melepaskan genggaman itu, menganggap tadi hanya mimpi karena nyatanya…

aku berdiri, hampir pergi. tapi radit berhasil meraih tanganku, menahanku.
” dengarkan penjelasanku, kebenaran yang kamu harus tahu ”

” ini sudah jelas, lepasin aku ”

” ini bukan seperti kamu pikirkan, kumohon… setelah kamu dengar semua, kamu boleh memutuskan buat pergi ” dia melepaskan tanganku, menunduk membuatku luruh, sesaat. aku terduduk. masih di hadapannya, menunggu penjelasanya. penjelasan yang entah akan membuat perasaanku menjadi apa lagi.
” ini andien anakku, umurnya 3 tahun… ” perlahan, tersendat
” jadi waktu itu?? 2 tahun lalu, udah ada dia?? ” marahku

” iya, 2 tahun yang lalu saat kita bertemu aku sudah punya satu keluarga kecil yang bahagia, sampai dengan istriku sakit bahkan aku masih tetap mencintainya… ”
“buat apa aku dengar ini.??? ” potongku. sakit!

” sampai suatu ketika aku lihat kamu, aku ga tahu kenapa aku bisa ingin tahu kamu, ingin dekat kamu ” ucapnya lalu diam sesaat.

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar