Langit memerah, semerah wajah manisnya, membuatku enggan beranjak dari dekatnya. Senyum tipisnya tersungging, membuatku diam-diam mencintainya lagi. Dia teramat berharga untuk kusiakan, untuk kubiarkan berlalu. Aku terpaksa menutupi perasaanku, cintaku padanya, aku tidak mau lagi mencintainya, lalu menyakitinya lagi.
Dia masih trsenyum, matanya riang menatap senja. dia terlihat bahagia hari ini, pantai membuatnya mengeluarkan sisi kekanakannya. Dan mukaya kembali merah semerah senja, saat tanpa sengaja, pandangan kami terpaut.
” Kamu seneng hari ini? “, Ucapku pelan.
” Iya “, jawabnya singkat. Dia tidak pernah mau bicara banyak denganku. Entah kenapa.
Hari ini kami bertemu lagi, setelah beberapa tahun dia mengundurkan diri dari hidupku. Aku tahu dia sakit hati waktu itu, sangat sakit. Saat aku katakan padanya aku lagi pedekate sama satu gadis d kampus. Suaranya luruh kudengar dari seberang telepon, terbayang olehku tangisnya sesudah itu. Sebenarnya aku tak ingin melepaskannya, aku ingin tetap dekat, aku masih ingin menempatkn dia juga di hatiku, menemani hari-hariku, tapi dia menolak, dia memilih berlalu dan menyimpan kenangan kami dalam hatinya, mungkin.
Aku sedih sebenarnya, aku masih menginginkannya lebih dari yang dia tahu. Tapi aku tidak bisa memaksanya, tidak boleh lebih tepatnya. dia juga tidak memaksaku, dia juga tidak memaksaku, dia tidak menuntutku karena telah membuatnya jatuh cinta dan menggantungkan perasaannya lalu aku meninggalkannya begitu saja. dan dia hanya diam, setuju dan berlalu.
Beberapa tahun tanpanya, membuatku merindu. Dia aneh bagiku, lucu, kekanakan, tapi kadang dewasa. Kadang nampak polos, kadang penuh ide dan mempesona. Kadang galak tapi juga bisa lembut. Dia begitu kompleks, semua lengkap terangkum dalam raganya yang manis.
Semua yang ada padanya membuatku tertarik dan tak menyiakannya sewaktu dia menghubungiku kembali. Aku susah payah mengajaknya bertemu di sini, dia sudah menolak, mengabaikan semua sms, telepponku, semuanya. Tapi entah apa yang membuatnya luluh pada akhirnya dan memutuskan mau bertemu denganku hari ini.
Aku tahu matanya masih menyimpan rindu. Rindu yang dalam. Dia juga masih seperti dulu, belum berubah. dan perasaanku juga sama dengannya.
” Kita pulang yuk…!”, ajakku.
” Iya, hampir malam nih “, ucapnya pelan.
Kami berjalan beriringan, tangannya meminta untuk digenggam, namun aku tidak mau menggandengnya aku lebih senang berpenampilan angkuh di depannya, membuatnya penasaran dan dia juga diam tidak pernah mempermasalahkan cerita beberapa tahun silam
Kami berpisah saat sampi di depan rumahnya. Ingin rasanya mencium keningnya seperti dulu. Tapi lagi lagi angkuhku tak sanggup melakukannya.
Sebenarnya bukan angkuh, semua yang kulakukan, kekakuanku ini hanya satu cara untuk menghindar dari cinta. agar aku atau dia tak lagi jatuh cinta. aku tidak tahu perasaannya saat ini. aku hanya bisa membaca dari matanya, melihat tingkahnya. Dia juga terlihat angkuhnamun aku tahu dia masih mencintaiku sebesar aku mencintainnya atau lebih besar aku atau cintanya yang lebih besar? aku tidak tahu dia juga tidak tahu. Kami tidak pernah membicarakannya, entah kenapa..?!
Aku tidakingin dia mencintaiku lagi lalu terluka lagi. aku tidak mau lagi menyakitinya. Tapi tentunya aku salah, aku telah memintanya ada di sini, bertemu dan melepas rindu. Dan itu akan menguak lagi perasaan diantara kami. Aku tahu dia rapuh, mudah jatuh cinta. Harusnya kubiarkan saja dia dengan bahagianya, toh aku sendiripun juga telh bahagia. Hanya saja aku merindu, merindukan sosok yang diam-diam kukagumi.
” Ya udah, makasih ya buat hari ini “, ucapnya perlahan, menyunggingkan senyuman manis.
” sama-sama, aku seneng hari ini.. makasih ya..”.
Dia berlalu, bayang wajahnya bergelayut di pelupuk mata, memberatkanku untuk melihat, sadar dengan kenyataan bahwa aku dan dia telah termiliki, kami punya hidup masing-masing. Semoga pertemuan ini tak membuat apa-apa. Karena aku dan dia tak ingin memilih.